Pagi tadi saya menyimak obrolan Dea Anugrah dalam kanal YouTube Malaka yang mengulas urgensi menulis.
Salah satu yang memantik bagi saya adalah bahwa menulis itu menyembuhkan. Di tengah dunia yang sangat berisik ini, menulis bisa menjadi obat. Obat dari kegelisahan misalnya.
Hal menarik lainnya yang cukup jadi alasan saya akhirnya menulis ini adalah soal kemampuan berpikir. Menurut Dea, menulis adalah salah satu cara ampuh dalam melatih berpikir. Menulis adalah berpikir. Demikianlah kira-kira.
Mirisnya kemampuan menulis ini yang seharusnya dilatih dan dikembangkan di dunia akademik khususnya kampus justru tidak mendapat porsi yang layak.
Mahasiswa hanya dituntut menulis mengikuti sistematika penulisan soal font, ukuran tulisan, margin kertas, teknik footnote dll. Tapi yang jarang dilakukan dengan ketat adalah sistematika berpikir. Padahal justru itulah ruh akademik seharusnya.
Saya mencoba menulis bukan supaya diingat sebagai penulis. Saya hanya ingin terus belajar dan berpikir dengan menulis.
Btw, saya punya kebiasaan di waktu-waktu luang menyimak konten-konten panjang dalam beragam tema mulai dari edukasi, politik, isu sosial, finansial, parenting, self development, dan tentunya spiritual.
Di tengah-tengah saya menyimak itu kerap muncul bisikan dalam kepala, sepertinya ini penting diketahui orang lain. Mungkin itu alasan mengapa akhirnya tulisan ini muncul. []
Komentar
Posting Komentar