Langsung ke konten utama

Tips Memilih Menu Makanan Agar Tetap Bugar Selama Puasa


Gambar: Atheer.com

Pada bulan puasa anda patut cermat memilih makanan saat sahur dan berbuka karena kegiatan berpuasa adalah aktivitas yang banyak menguras tenaga, khususnya bagi mereka yang tidak terbiasa dengan aktivitas tersebut.

Untuk itu, dr Jovita Amelia SpGK memberikan tips memilih makanan agar tubuh tetap bugar selama puasa di acara Halodoc, Jakarta (30/4/2019).

Jovita dalam acara tersebut menyampaikan empat tips memilih menu makanan agar tubuh tetap bugar dalam berpuasa.

Pertama, pilihlah menu sahur dengan komposisi gizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan kalori harian. Sebab, makanan yang lengkap dan berenergi dapat memenuhi kebutuhan energi sepanjang hari.

"Makanan dengan karbohidrat kompleks dapat melepaskan energi secara perlahan selama puasa," ungkap Jovita seperti dikutip dari Tribuntimur.com, Selasa (7/5).

Adapun komponen menu makanan yang seimbang terdiri dari; 50-60 persen karbohidrat, 15-20 persen protein, dan 20-25 persen lemak.

Kedua, cukupkan kebutuhan cairan dan zat besi saat sahur karena dapat membantu distribusi oksigen tetap terjaga selama berpuasa. Dan jangan lupa memenuhi kebutuhan cairan dua liter perharinya.

Ketiga, hindari makanan berminyak dan hidangan yang mengandung banyak garam.
Makanan yang mengandung minyak berlebih memperlambat pengosongan lambung, sehingga memicu naiknya asam lambung.

Keempat, hindari mengonsumsi makanan manis dari karbohidrat sederhana secara berlebih saat sahur.

Sebab, makanan semisal itu akan lebih mudah diserap dan dicerna oleh tubuh sehingga hal tersebut membuat anda mudah lapar.

Jika ingin mengonsumsi makanan manis, pilihlah makanan dengan karbohidrat kompleks, seperti buah, sayur dan umbi-umbian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Agar Bahagia Ber-KAMMI!

Persis tadi malam saya ngobrol dengan salah seorang kader KAMMI yang masih aktif. Soal kiprahnya saya tidak perlu ragukan. Paling tidak itu ditunjukkan dari keaktifan dan kontribusi positifnya selama ini. "Bagaimana pekerjaan di kantor," tanyaku kepada kader itu. Kader ini baru saja diterima bekerja. Memang masih fresh graduate. Masih seger. "Kata direkturnya: Alhamdulillah selama adek masuk bekerja di kantor ini kami merasa sangat terbantu. Hanya saja mungkin untuk bulan selanjutnya kami sudah tidak bisa memberikan insentif," jawab kader itu kepadaku. Kader itu menceritakan tentang dinamika kerjanya di kantor yang baru saja ia bekerja di sana. Ia menceritakan pesan-pesan direkturnya yang juga seorang mantan aktivis mahasiswa seperti dirinya. "Dunia kerja ini beda dengan dunia organisasi dek. Beda sekali. Dalam dunia kerja yang paling dibutuhkan adalah kemampuan adaptasi dan kemampuan belajar dengan cepat," kata direktur kader itu. "Banyak...

P E N J I L A T

Penjilat!  Itulah salah satu dari banyaknya gelar yang disematkan kepada politisi yang belakangan kerap tampil mendukung narasi pemerintah khususnya presiden. Sebut saja nama-nama seperti Fahri Hamzah, Fadli Zon dan Budiman Sujatmiko dinilai tidak lagi konsisten membela idealisme yang selama ini mereka perjuangkan hanya karena mereka tidak lagi lantang seperti sebelumnya. Sepakat atau tidak sepakat, itu soal lain. Tulisan ini bukan untuk mengulas benarkah mereka tidak lagi memperjuangkan idealisme yang dulu disuarakan. Tapi tulisan ini ingin mengajak pembaca memahami bagaimana sebenarnya sistem kita bekerja.  Btw, saat ini saya cukup konsen mempelajari kewarganegaraan yang didalamnya juga tentu soal sistem ketatanegaraan.  Dalam sistem presidensial seperti Indonesia ini kita mengenal pembagian atau pembatasan kekuasaan. Sedikitnya kekuasaan itu dibagi ke dalam tiga cabang kekuasaan: eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Soal lembaga apa saja yang termasuk di d...

Kembali Menulis!

Pagi tadi saya menyimak obrolan Dea Anugrah dalam kanal YouTube Malaka yang mengulas urgensi menulis. Salah satu yang memantik bagi saya adalah bahwa menulis itu menyembuhkan. Di tengah dunia yang sangat berisik ini, menulis bisa menjadi obat. Obat dari kegelisahan misalnya. Hal menarik lainnya yang cukup jadi alasan saya akhirnya menulis ini adalah soal kemampuan berpikir. Menurut Dea, menulis adalah salah satu cara ampuh dalam melatih berpikir. Menulis adalah berpikir. Demikianlah kira-kira.  Mirisnya kemampuan menulis ini yang seharusnya dilatih dan dikembangkan di dunia akademik khususnya kampus justru tidak mendapat porsi yang layak. Mahasiswa hanya dituntut menulis mengikuti sistematika penulisan soal font, ukuran tulisan, margin kertas, teknik footnote dll. Tapi yang jarang dilakukan dengan ketat adalah sistematika berpikir. Padahal justru itulah ruh akademik seharusnya. Saya mencoba menulis bukan supaya diingat sebagai penulis. Saya hanya ingin terus belajar dan...