Langsung ke konten utama

Postingan

Mengenal KAMMI Lebih Dalam! (3 Alasan Kenapa Harus DM2 - Part 1)

Kenapa mesti ikut DM2? Atau kenapa mesti naik jenjang menjadi AB2? Mungkin itu pertanyaan antum ketika diarahkan daftar (ikut) DM2. Ada banyak alasannya, baik secara personal maupun keorganisasian. Tapi, saya cuma ingin beri 3 alasan saja. Dan kali ini, saya sampaikan alasan pertama. Kita flashback dulu ya. Dulu sewaktu ajakan gabung KAMMI itu datang kepada antum yang pertama kali terlintas dalam pikiran adalah apa itu KAMMI? Organisasi sejenis apa itu KAMMI? Apa bedanya dengan HMI, IMM, PMII dan sejenisnya? Kenapa KAMMI begitu dielu-elukan sebagai anak kandung reformasi? Kenapa KAMMI menjadi harapan umat di tengah kemelutnya masalah-masalah keummatan dan kebangsaan? Mungkin itulah sederet pertanyaan dibenak antum kala itu, 6 bulan, 10 bulan, 1 tahun atau bahkan 2 tahun lalu. Lalu, oleh teman yang mengajak hanya mengatakan, "gabung dulu baru kenal" atau "kenali KAMMI dari KAMMI jangan dari katanya". Akhirnya antum gabunglah KAMMI. Tapi setelah antum berp...

PANCASILA: SEBUAH REFLEKSI UNTUK BELAJAR BERSATU

Ketika kita terdera tragedi, kemiskinan, kelaparan, dan penindasan, kita selalu menyoal dua hal : konspirasi musuh dan lemahnya solidaritas atau persatuan kita. Kaki tangan musuh seakan merambah setiap masalah yang menimpa kita. Dan kita seolah tak sanggup membendung itu karena persatuan kita lemah. Dalam momentum 1 Juni ini, mari sejenak kita menyoal persatuan kita dari sisi lain. Tentu banyak faktor yang dapat mempersatukan kita: keyakinan, sejarah, bangsa dan bahasa. Tapi semua faktor ini tidak berfungsi efektif menyatukan kita. Sementara itu, ada banyak faktor yang mengoyak persatuan kita. Misalnya, kebodohan, fanatik kelompok, ambisi, dan konspirasi dari pihak luar. Mungkin itu yang sering kita dengar setiap kali menyoroti soal persatuan. Tapi di sisi lain, sebenarnya yang mempersatukan kita adalah "suasana jiwa" yang sama. Mungkin ini kelihatannya remeh temeh tapi, demikianlah bahwa persatuan itu adalah refleksi dari suasana jiwa kita. Ia bukan sekadar soal ...

Aldi Taher Potret Wajah Politisi Tanah Air

Pendaftaran Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) resmi telah dilangsungkan sejak 1 Mei 2023 kemarin dan ditutup pada tanggal 14 Mei 2023. Wajah Bacaleg pun di sana-sini bermunculan dengan ragam bentuk. Ada yang menyosialisasikan dirinya lewat metode lama seperti spanduk, baliho dan sejenisnya. Juga ada yang tampil dengan metode lebih kekinian yaitu lewat media sosial. Bacaleg yang muncul pun berasal dari beragam latar belakang pendidikan, profesi, budaya dan agama. Yang menarik, belakangan pentas politik nasional kita dipenuhi wajah-wajah selebriti kawakan yang saban hari menghibur masyarakat lewat program TV yang dibawakannya. Denny Cagur, Opie Kumis, Ramzi, Najri dan sederet nama lainnya adalah nama-nama Bacaleg yang diketahui telah didaftarkan lewat partai yang dipilihnya ke KPU untuk ikut serta berkontestasi di Pemilu 2024 mendatang. Ini tentu tidak begitu mengagetkan buat sebagian orang. Pasalnya selebriti yang terkenal sudah barang pasti punya popularitas yang tinggi dan...

Neoimperialisme; Penjajahan Tanpa Menjajah

Hard times create strong men, strong men create good times, good times create weak men, weak men create hard times.  Masa krisis melahirkan manusia kuat, manusia kuat menciptakan kejayaan, kejayaan melahirkan manusia lemah, manusia lemah menciptakan krisis. Perkataan di atas tentu sangat populer di telinga kita. Khususnya yang sering membaca dan mengkaji isu-isu perubahan sosial. Termasuk soal peradaban. Qoute ini menjelaskan bahwa masa sulit atau krisis itu akan melahirkan manusia kuat karena tanpa kehidupan akan selesai. Manusia kuatlah yang menciptakan kejayaan. Tapi, kejayaan itu apabila tidak disikapi dengan bijaksana akan mengantarkan pada krisis dengan lahirnya manusia lemah. Seketika saya teringat ucapan salah seorang teman ketika berdiskusi soal kondisi Indonesia. "Sepertinya bagus kalau kita dijajah kembali," ujarnya spontan setengah bercanda. Menurutnya, generasi founding father and mother Indonesia adalah manusia kuat karena memang kondisi mengharuskan...

Kisah Pembisik Raja yang Menginspirasi

Pagi ini secara tidak sengaja saya membaca kisah dua kelompok (elit) yang mengitari pemimpinnya. Kisah antara kelompok elit Nabi Sulaiman dan kelompok elit Ratu Balqis. Kisah ini ada dalam surah An-Naml. Di sana diceritakan, mula-mula Sulaiman mengirimkan surat kepada Ratu Balqis untuk memeluk ajaran "Islam" setelah mendapat kabar dari "intelijennya" bahwa ia menyembah matahari. Balqis yang mendapat surat tersebut seketika mengumpulkan elitnya untuk meminta pandangan mereka mengenai isi surat tersebut.  Apa respon elit Balqis? Kita ini kaum yang punya kekuatan dan keberanian (dalam bertempur), keputusan berada di tanganmu, kata mereka. Tapi Balqis justru punya pandangan berbeda dengan elitnya, ia paham bahwa Raja-raja itu kalau memasuki (menaklukkan) suatu wilayah akan membinasakan dan membuat penduduknya yang semula mulia menjadi hina. Dan itu yang diprediksi Balqis akan terjadi jika Sulaiman dan bala tentaranya memasuki wilayah mereka. Maka Balqis pun ...

Jika Pemuda Mengabaikan Budaya Ilmu

Umat Islam dan bangsa Indonesia tidak mungkin akan menjadi umat dan bangsa yang besar jika mengabaikan tradisi ilmu.  Jika budaya santai. Budaya hedonis. Budaya jalan pintas terus dikembangkan. Hanyalah mimpi saja bangsa Indonesia akan menjadi bangsa besar yang disegani dunia. Sejarah telah mencatat bahwa kebangkitan senantiasa ditandai dengan bangkitnya budaya ilmu dan budaya pengorbanan. Kunci kebangkitan ada pada ilmu pengetahuan. Imam Syafi'i berkata, siapa yang menginginkan dunia harus dengan ilmu, siapa yang menginginkan akhirat harus dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan keduanya harus pula dengan ilmu. Oleh karena itu, setiap ingin memulai aktivitas belajar atau ilmu kita dianjurkan berdoa agar ditambahkan oleh Allah swt ilmu. Lebih dari itu, kita meminta ilmu yang bermanfaat. Bagi saya, anjuran tersebut bukan sekadar doa agar ilmu kita ditambahkan dan kita dijauhkan dari kebodohan. Tapi, ini adalah doa kebesaran. Permohonan menjadi besar dengan ilmu pengetah...

Setitik Asa untuk Rumah Peradaban

Generasi elit pendobrak zaman dan segenap karya gemilang lahir dari "rumah". Generasi elit (awal) Islam lahir dari Rumah sahabat bernama Arqam bin Abil Arqam. Rasulullah menjadikan rumah tersebut sebagai pusat dakwah dan tarbiyah. Dari rumah (darul) tersebut lahirlah pemuda-pemuda pembela dakwah Rasulullah yang menegakkan nilai dan syiar Islam tanpa gentar. Dari rumah itulah mereka merancang strategi dan siasat dakwah menghadapi kafir Quraisy hingga akhir fase sirriyah setelah Umar bin Khattab masuk Islam. Demikian juga dalam konteks Indonesia, tokoh besar revolusi Soekarno lahir dari rumah, Rumah Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Bersama Soekarno juga lahir tokoh lainnya seperti Semaun dan Kartosuwirjo dari rumah itu. Tidak salah jika Tjokroaminoto digelari Guru Bangsa sebab dari rumahnya dan didikannya lahir pemikir besar bangsa Indonesia. Soekarno dengan Nasakom-nya, Semaun dengan Komunisme-nya dan Kartosuwirjo dengan Islam-nya. Hari ini kita resmikan Sekret...