Langsung ke konten utama

Postingan

P E N J I L A T

Penjilat!  Itulah salah satu dari banyaknya gelar yang disematkan kepada politisi yang belakangan kerap tampil mendukung narasi pemerintah khususnya presiden. Sebut saja nama-nama seperti Fahri Hamzah, Fadli Zon dan Budiman Sujatmiko dinilai tidak lagi konsisten membela idealisme yang selama ini mereka perjuangkan hanya karena mereka tidak lagi lantang seperti sebelumnya. Sepakat atau tidak sepakat, itu soal lain. Tulisan ini bukan untuk mengulas benarkah mereka tidak lagi memperjuangkan idealisme yang dulu disuarakan. Tapi tulisan ini ingin mengajak pembaca memahami bagaimana sebenarnya sistem kita bekerja.  Btw, saat ini saya cukup konsen mempelajari kewarganegaraan yang didalamnya juga tentu soal sistem ketatanegaraan.  Dalam sistem presidensial seperti Indonesia ini kita mengenal pembagian atau pembatasan kekuasaan. Sedikitnya kekuasaan itu dibagi ke dalam tiga cabang kekuasaan: eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Soal lembaga apa saja yang termasuk di d...

Kembali Menulis!

Pagi tadi saya menyimak obrolan Dea Anugrah dalam kanal YouTube Malaka yang mengulas urgensi menulis. Salah satu yang memantik bagi saya adalah bahwa menulis itu menyembuhkan. Di tengah dunia yang sangat berisik ini, menulis bisa menjadi obat. Obat dari kegelisahan misalnya. Hal menarik lainnya yang cukup jadi alasan saya akhirnya menulis ini adalah soal kemampuan berpikir. Menurut Dea, menulis adalah salah satu cara ampuh dalam melatih berpikir. Menulis adalah berpikir. Demikianlah kira-kira.  Mirisnya kemampuan menulis ini yang seharusnya dilatih dan dikembangkan di dunia akademik khususnya kampus justru tidak mendapat porsi yang layak. Mahasiswa hanya dituntut menulis mengikuti sistematika penulisan soal font, ukuran tulisan, margin kertas, teknik footnote dll. Tapi yang jarang dilakukan dengan ketat adalah sistematika berpikir. Padahal justru itulah ruh akademik seharusnya. Saya mencoba menulis bukan supaya diingat sebagai penulis. Saya hanya ingin terus belajar dan...

Mudik: Pelajaran untuk Mereka yang Ingin Bahagia!

Percayakah kita bahwa sebenarnya manusia yang hidup di dunia ini dengan semua dinamika kehidupan yang dijalaninya hanya menginginkan kebahagiaan. Tua-muda, laki-perempuan, orang desa-orang kota, pejabat-rakyat, kaya-miskin, semuanya menginginkan satu hal yang sama: bahagia. Tidak lebih tidak kurang. Untuk itu, tulisan ini saya persembahkan kepada mereka yang serius menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Kita akan sama-sama belajar bagaimana berbahagia bercermin dari peristiwa mudik. Mudik adalah di antara pelajaran hidup yang tak akan habis dihikmati oleh orang-orang yang ingin mengambil pelajaran. Di antara hikmah yang mungkin paling sering kita dengarkan adalah soal bagaimana menyiapkan bekal hidup menghadapi kehidupan setelah kematian (akhirat). Untuk itu, tulisan ini tidak akan mengulangi bahasan yang sama. Tulisan ini akan coba memotret mudik dari sudut pandang kebahagiaan. Bagaimana mudik menjadi  sebuah pelajaran untuk kita yang selalu mengupayakan kebahagiaan ...

Agar Bahagia Ber-KAMMI!

Persis tadi malam saya ngobrol dengan salah seorang kader KAMMI yang masih aktif. Soal kiprahnya saya tidak perlu ragukan. Paling tidak itu ditunjukkan dari keaktifan dan kontribusi positifnya selama ini. "Bagaimana pekerjaan di kantor," tanyaku kepada kader itu. Kader ini baru saja diterima bekerja. Memang masih fresh graduate. Masih seger. "Kata direkturnya: Alhamdulillah selama adek masuk bekerja di kantor ini kami merasa sangat terbantu. Hanya saja mungkin untuk bulan selanjutnya kami sudah tidak bisa memberikan insentif," jawab kader itu kepadaku. Kader itu menceritakan tentang dinamika kerjanya di kantor yang baru saja ia bekerja di sana. Ia menceritakan pesan-pesan direkturnya yang juga seorang mantan aktivis mahasiswa seperti dirinya. "Dunia kerja ini beda dengan dunia organisasi dek. Beda sekali. Dalam dunia kerja yang paling dibutuhkan adalah kemampuan adaptasi dan kemampuan belajar dengan cepat," kata direktur kader itu. "Banyak...

Kompetisi Telah Usai, Ayo Balik ke Barak!

Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 telah usai dilaksanakan. Kita sisa menunggu hasil keputusan resmi dari penyelenggara pemilu (KPU). Apapun hasilnya semoga itu yang terbaik. Sedikitnya dua tiga bulan lamanya kita mengikuti dinamika politik tanah air ini. Mulai dari menjagokan kandidat tertentu hingga sesekali ikut membicarakan kekurangan kandidat lainnya. Tidak ada yang salah di situ. Semuanya adalah bagian dari proses kita berdemokrasi. Atau ikut memeriahkan pesta rakyat ini. Hari ini kita sudah bisa menebak siapa pemenang dari kompetisi pemilu kali ini. Mungkin dukungan kita menang, mungkin juga kalah. Kalau menang tidak perlu membusungkan dada, demikian juga kalau kalah tidak perlu seolah dunia ini runtuh dan akan hancur. Mudah-mudahan bangsa kita selalu dijaga oleh Allah swt. Hanya saja kalau saya boleh berbagi pandangan dan nasihat, saya ingin mengatakan tugas kita sebenarnya bukanlah menjadi pemilih dan pendukung semata. Tugas utama kita justru adalah menjadi pengawas bagi...

Mengokohkan Kontribusi! (3 Alasan Kenapa Harus DM2 - Part 3)

Tiga tangga (tahapan) seseorang untuk berkontribusi. Satu, mengenal diri. Dua, mengenal lingkungan. Tiga, baru berkontribusi. Dan ini alasan ketiga kenapa kita harus naik jenjang menjadi AB2. Alasan kedua, sebelumnya, sudah saya jelaskan bahwa jenjang AB1 itu menuntut adanya "kesempurnaan jati diri", AB2 menuntut kesediaan menjadi guru bagi gerakan. Alasan ketiga ini saya ingin tekankan soal pengokohan kontribusi. Jika AB1 itu telah selesai mengenal dirinya: visi misinya, prinsip hidupnya, karakternya, potensinya, kekuatan dan kelemahannya. Maka, selanjutnya ia perlu mengenal dengan baik lingkungannya untuk kemudian dapat berkontribusi dengan baik. Lingkungan yang dimaksud termasuk mengenali kendaraan (organisasi) yang mereka gunakan beramal dan berkontribusi dengan baik. Jadi, kalau antum/na sering menanyakan bagaimana mengokohkan kontribusi kita untuk Indonesia atau untuk KAMMI maka, salah satunya adalah kita perlu mengenal lebih dalam dan lebih baik lagi kendar...

Mengobati Kebingungan! (3 Alasan Kenapa Harus DM2 - Part 2)

Alasan pertama sudah saya sampaikan di tulisan yang lalu. Ini alasan yang kedua. Obat atas "penyakit kebingungan" tidak lain adalah ilmu. Ilmu itu memberikan arah dan kejelasan tujuan sehingga yang kita sebut "penyakit kebingungan" itu terobati dengan sendirinya setelah ilmu dimiliki. Dalam literatur klasik Islam, dunia ini salah satunya digambarkan sebagai tempat persinggahan. Tempat kita mencari dan mengumpulkan bekal sebanyak dan sebaik mungkin. Manusia yang tidak paham tujuan dan arah hidupnya dapat dipastikan kebingungan menjalani hidup karena untuk memilih pekerjaan apa yang seharusnya dilakukan pun mereka tidak tahu.  Berbeda dengan manusia yang punya tujuan dan arah hidup, mereka dapat menentukan dengan mudah skala prioritas berdasarkan kebutuhannya. Karena satu hal, mereka punya ilmu. Mereka tahu arah yang hendak ia ditempuh. Organisasi (KAMMI) sebagai kendaraan beramal shalih dunia akhirat juga demikian. Kader yang memahami tujuan dan arah perj...

Mengenal KAMMI Lebih Dalam! (3 Alasan Kenapa Harus DM2 - Part 1)

Kenapa mesti ikut DM2? Atau kenapa mesti naik jenjang menjadi AB2? Mungkin itu pertanyaan antum ketika diarahkan daftar (ikut) DM2. Ada banyak alasannya, baik secara personal maupun keorganisasian. Tapi, saya cuma ingin beri 3 alasan saja. Dan kali ini, saya sampaikan alasan pertama. Kita flashback dulu ya. Dulu sewaktu ajakan gabung KAMMI itu datang kepada antum yang pertama kali terlintas dalam pikiran adalah apa itu KAMMI? Organisasi sejenis apa itu KAMMI? Apa bedanya dengan HMI, IMM, PMII dan sejenisnya? Kenapa KAMMI begitu dielu-elukan sebagai anak kandung reformasi? Kenapa KAMMI menjadi harapan umat di tengah kemelutnya masalah-masalah keummatan dan kebangsaan? Mungkin itulah sederet pertanyaan dibenak antum kala itu, 6 bulan, 10 bulan, 1 tahun atau bahkan 2 tahun lalu. Lalu, oleh teman yang mengajak hanya mengatakan, "gabung dulu baru kenal" atau "kenali KAMMI dari KAMMI jangan dari katanya". Akhirnya antum gabunglah KAMMI. Tapi setelah antum berp...

PANCASILA: SEBUAH REFLEKSI UNTUK BELAJAR BERSATU

Ketika kita terdera tragedi, kemiskinan, kelaparan, dan penindasan, kita selalu menyoal dua hal : konspirasi musuh dan lemahnya solidaritas atau persatuan kita. Kaki tangan musuh seakan merambah setiap masalah yang menimpa kita. Dan kita seolah tak sanggup membendung itu karena persatuan kita lemah. Dalam momentum 1 Juni ini, mari sejenak kita menyoal persatuan kita dari sisi lain. Tentu banyak faktor yang dapat mempersatukan kita: keyakinan, sejarah, bangsa dan bahasa. Tapi semua faktor ini tidak berfungsi efektif menyatukan kita. Sementara itu, ada banyak faktor yang mengoyak persatuan kita. Misalnya, kebodohan, fanatik kelompok, ambisi, dan konspirasi dari pihak luar. Mungkin itu yang sering kita dengar setiap kali menyoroti soal persatuan. Tapi di sisi lain, sebenarnya yang mempersatukan kita adalah "suasana jiwa" yang sama. Mungkin ini kelihatannya remeh temeh tapi, demikianlah bahwa persatuan itu adalah refleksi dari suasana jiwa kita. Ia bukan sekadar soal ...

Aldi Taher Potret Wajah Politisi Tanah Air

Pendaftaran Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) resmi telah dilangsungkan sejak 1 Mei 2023 kemarin dan ditutup pada tanggal 14 Mei 2023. Wajah Bacaleg pun di sana-sini bermunculan dengan ragam bentuk. Ada yang menyosialisasikan dirinya lewat metode lama seperti spanduk, baliho dan sejenisnya. Juga ada yang tampil dengan metode lebih kekinian yaitu lewat media sosial. Bacaleg yang muncul pun berasal dari beragam latar belakang pendidikan, profesi, budaya dan agama. Yang menarik, belakangan pentas politik nasional kita dipenuhi wajah-wajah selebriti kawakan yang saban hari menghibur masyarakat lewat program TV yang dibawakannya. Denny Cagur, Opie Kumis, Ramzi, Najri dan sederet nama lainnya adalah nama-nama Bacaleg yang diketahui telah didaftarkan lewat partai yang dipilihnya ke KPU untuk ikut serta berkontestasi di Pemilu 2024 mendatang. Ini tentu tidak begitu mengagetkan buat sebagian orang. Pasalnya selebriti yang terkenal sudah barang pasti punya popularitas yang tinggi dan...

Neoimperialisme; Penjajahan Tanpa Menjajah

Hard times create strong men, strong men create good times, good times create weak men, weak men create hard times.  Masa krisis melahirkan manusia kuat, manusia kuat menciptakan kejayaan, kejayaan melahirkan manusia lemah, manusia lemah menciptakan krisis. Perkataan di atas tentu sangat populer di telinga kita. Khususnya yang sering membaca dan mengkaji isu-isu perubahan sosial. Termasuk soal peradaban. Qoute ini menjelaskan bahwa masa sulit atau krisis itu akan melahirkan manusia kuat karena tanpa kehidupan akan selesai. Manusia kuatlah yang menciptakan kejayaan. Tapi, kejayaan itu apabila tidak disikapi dengan bijaksana akan mengantarkan pada krisis dengan lahirnya manusia lemah. Seketika saya teringat ucapan salah seorang teman ketika berdiskusi soal kondisi Indonesia. "Sepertinya bagus kalau kita dijajah kembali," ujarnya spontan setengah bercanda. Menurutnya, generasi founding father and mother Indonesia adalah manusia kuat karena memang kondisi mengharuskan...

Kisah Pembisik Raja yang Menginspirasi

Pagi ini secara tidak sengaja saya membaca kisah dua kelompok (elit) yang mengitari pemimpinnya. Kisah antara kelompok elit Nabi Sulaiman dan kelompok elit Ratu Balqis. Kisah ini ada dalam surah An-Naml. Di sana diceritakan, mula-mula Sulaiman mengirimkan surat kepada Ratu Balqis untuk memeluk ajaran "Islam" setelah mendapat kabar dari "intelijennya" bahwa ia menyembah matahari. Balqis yang mendapat surat tersebut seketika mengumpulkan elitnya untuk meminta pandangan mereka mengenai isi surat tersebut.  Apa respon elit Balqis? Kita ini kaum yang punya kekuatan dan keberanian (dalam bertempur), keputusan berada di tanganmu, kata mereka. Tapi Balqis justru punya pandangan berbeda dengan elitnya, ia paham bahwa Raja-raja itu kalau memasuki (menaklukkan) suatu wilayah akan membinasakan dan membuat penduduknya yang semula mulia menjadi hina. Dan itu yang diprediksi Balqis akan terjadi jika Sulaiman dan bala tentaranya memasuki wilayah mereka. Maka Balqis pun ...

Jika Pemuda Mengabaikan Budaya Ilmu

Umat Islam dan bangsa Indonesia tidak mungkin akan menjadi umat dan bangsa yang besar jika mengabaikan tradisi ilmu.  Jika budaya santai. Budaya hedonis. Budaya jalan pintas terus dikembangkan. Hanyalah mimpi saja bangsa Indonesia akan menjadi bangsa besar yang disegani dunia. Sejarah telah mencatat bahwa kebangkitan senantiasa ditandai dengan bangkitnya budaya ilmu dan budaya pengorbanan. Kunci kebangkitan ada pada ilmu pengetahuan. Imam Syafi'i berkata, siapa yang menginginkan dunia harus dengan ilmu, siapa yang menginginkan akhirat harus dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan keduanya harus pula dengan ilmu. Oleh karena itu, setiap ingin memulai aktivitas belajar atau ilmu kita dianjurkan berdoa agar ditambahkan oleh Allah swt ilmu. Lebih dari itu, kita meminta ilmu yang bermanfaat. Bagi saya, anjuran tersebut bukan sekadar doa agar ilmu kita ditambahkan dan kita dijauhkan dari kebodohan. Tapi, ini adalah doa kebesaran. Permohonan menjadi besar dengan ilmu pengetah...

Setitik Asa untuk Rumah Peradaban

Generasi elit pendobrak zaman dan segenap karya gemilang lahir dari "rumah". Generasi elit (awal) Islam lahir dari Rumah sahabat bernama Arqam bin Abil Arqam. Rasulullah menjadikan rumah tersebut sebagai pusat dakwah dan tarbiyah. Dari rumah (darul) tersebut lahirlah pemuda-pemuda pembela dakwah Rasulullah yang menegakkan nilai dan syiar Islam tanpa gentar. Dari rumah itulah mereka merancang strategi dan siasat dakwah menghadapi kafir Quraisy hingga akhir fase sirriyah setelah Umar bin Khattab masuk Islam. Demikian juga dalam konteks Indonesia, tokoh besar revolusi Soekarno lahir dari rumah, Rumah Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Bersama Soekarno juga lahir tokoh lainnya seperti Semaun dan Kartosuwirjo dari rumah itu. Tidak salah jika Tjokroaminoto digelari Guru Bangsa sebab dari rumahnya dan didikannya lahir pemikir besar bangsa Indonesia. Soekarno dengan Nasakom-nya, Semaun dengan Komunisme-nya dan Kartosuwirjo dengan Islam-nya. Hari ini kita resmikan Sekret...

Kekuatan Mimpi

Saya salah seorang yang percaya betul bahwa mimpi itu sebelum wujud dalam alam realita harus wujud dalam alam imajinasi terlebih dahulu. Inilah salah satu alasan manusia secara komunal ataupun individunya harus punya mimpi. Agar mimpi itu memberinya tenaga. Menggerakkan dan mendorongnya mewujudkan mimpi tersebut. Kata orang, jika bermimpi saja kita tidak berani bagaimana mungkin kita akan sampai pada sesuatu yang memang tidak kita inginkan. "Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati," begitu kutipan dalam film laskar pelangi. Sudah terlalu banyak kisah nyata Inspiratif yang pernah kita baca, dengar, atau bahkan saksikan langsung, orang yang berani bercita-cita betul-betul mendapatkan apa yang diimpikannya. Kisah nyata yang terpampang nyata adalah kisah kita. Coba ingat kembali. Pernahkah kita membayangkan akan mengenyam pendidikan setinggi sekarang ini? Pernahkah kita membayangkan akan berkuliah di kota besar seperti sekarang ini? Itu semua terjadi karena bisa jad...

Sebuah Catatan untuk Hari Tani Nasional 2022

Hari tani tentu bukan semata semarak media sosial untuk memperlihatkan siapa yang lebih loyal kepada mereka yang kurang beruntung dalam hal materil (petani). Apalagi mencari simpati karena pemilu sudah semakin mendekati. Tapi, paling tidak inilah kebanggaan kita memiliki mereka. Merayakannya dengan segenap apa yang kita punya dan kita mampu. Di tengah arus urbanisasi yang semakin kuat mendorong semua orang ke kota, masih ada segelintir orang yang mau bertahan di desa untuk bertani. Untuk menjaga perut ibu pertiwi. Kedepan diperkirakan sekitar 70% penduduk Indonesia migrasi ke kota. Artinya, sumber daya manusia akan bertumpuk di kota dan desa-desa ditinggalkan. Padahal ada fakta lain yang tidak kalah mencengangkan yaitu kondisi dunia akan dilanda krisis pangan. Sebagian negara sudah mulai menahan pangannya untuk tidak diekspor karena menjaga cadangan. Bahkan di sebagian negara telah merasakan krisis pangan ini. Pertanyaannya jika semua orang migrasi ke kota siapa yang akan t...

Pemuda Hijrah Tonggak Perubahan

Secara harfiah hijrah adalah berpindah dari satu ke tempat ke tempat yang lain. Namun, secara maknawi tentu berarti juga berpindah dari satu kondisi (buruk) ke kondisi yang lain (baik). Atau juga bermakna perubahan sikap ke arah yang lebih baik. Fenomena hijrah telah merebak di negeri ini beberapa tahun belakangan. Sebagian komunitas bahkan menamakan dirinya dengan label 'hijrah'. Segmentasi yang dituju 'dakwah hijrah' ini biasanya adalah anak-anak muda. Tentunya bukan tanpa alasan memilih anak muda sebagai sasaran dakwah. Anak muda dikenal dengan fase bertumbuh. Fase pencarian jati diri. Mereka senang berekspresi dan mengeksplor hal baru. Dan karena itulah anak muda kerap kali terjatuh dalam kubangan maksiat. Pergaulan bebas, narkoba, miras, dan lain-lainnya adalah sederet 'dosa' anak muda yang jika hal tersebut tidak ditangani dengan baik akan berdampak buruk bagi mereka dan bagi kita semua secara komunal. Rusaknya anak muda adalah kehancuran bangs...

Visi Kebesaran Pemuda

Sayyid Qutb rahimahullah pernah berkata, "Seseorang yang mati dalam keadaan hanya memikirkan dirinya sendiri maka dia mati dalam keadaan kerdil. Sebaliknya, orang yang besar adalah orang yang mati memikirkan masalah umatnya." Isyarat kebesaran itu harus disambut hangat oleh pemuda. Sudah saatnya pemuda memikirkan hal-hal besar. Pemuda tidak boleh lagi dibuat galau oleh hal remeh temeh. Anak muda yang dibuat gundah oleh soal kecil dan remeh temeh itu tidaklah menjadikannya orang besar. PR kita adalah mulai belajar memikirkan perkara besar, tentang umat dan bangsa ini. Salahuddin Al-Ayyubi memikirkan bagaimana membebaskan Palestina. Muhammad Al-Fatih memikirkan bagaimana menembus dan menaklukan Konstantinopel. Soekarno memikirkan bagaimana membebaskan Indonesia dari penjajahan. Mereka semua dicatat oleh sejarah dengan tinta emas bahwa mereka adalah orang besar. Karena apa? Karena hidupnya mereka wakafkan untuk orang banyak, hidupnya berkah karena memberi manfaat ter...

Anak Muda Palsu?

Opini ini saya tuliskan dalam laman media sosial pribadi ketika selesai menonton film "Anak Muda Palsu" yang diperankan oleh influencer anak muda Kota Makassar Tuming-Abu. Selamat membaca! Industri perfilman adalah salah satu yang perkembangannya sangat pesat, khususnya di era industri 4.0 sekarang ini. Di samping itu, ketika kita bicara soal kebangkitan bangsa tak pernah lepas dari motivasi yang diproduksi oleh bangsa itu sendiri. Banyak hal yang dapat membangkitkan semangat kontribusi tersebut, salah satunya lewat film.  Melalui film, kita dapat menyampaikan pesan persuasif bahwa kita menginginkan kebangkitan. Lihat, anak kecil saat ini lebih mengenal artis dan atau tokoh fiksi seperti Spiderman, Ironman, dll.  Tidak sedikit di antara mereka ketika ditanyai tentang cita-cita mau menjadi seperti tokoh fiksi tersebut. Mau jadi Spiderman. Mau jadi Ironman. Kenapa? Karena tokoh fiksi itu berhasil menawarkan sesuatu. Sekarang, bagaimana jika hal tersebut mampu kita ...

Model Manusia Muslim Abad XXI | Resume Buku

RESUME BUKU “MODEL MANUSIA MUSLIM ABAD 21” BAB I MODEL MANUSIA MUSLIM : PESONA ABAD KE- 21 A. LANDASAN SYAR’I Dalam surat Al-Ashr ayat 1-3, Allah berfirman, ”Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran.” Surat Al-Ashr menunjukkan Allah bersumpah dengan waktu. Ini bermaksud bahwa waktu memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam kehidupan manusia.        Setiap manusia diberikan oleh Allah tiga jenis waktu, yaitu : 1. Waktu pribadi : waktu ini dimulai ketika hidup hingga meninggal. 2. Waktu sosial : usia setiap masyarakat. Contoh masyarakat firaun. 3. Waktu sejarah : waktu yang dimulai sejak Allah menciptakan bumi serta isinya dan akan diakhiri dengan peristiwa penghancuran. Empat fasilitas yang diberikan Allah kepada manusia dalam kehidupan ini : 1. Waktu sebagai kesempatan hidup. 2. Bumi sebagai tempat ...